Parenting

Tips Memotivasi Anak Mengejar Impiannya

Tips Memotivasi Anak Mengejar Impiannya

Akurasi.id – Cita-cita merupakan impian masa depan yang selalu dimiliki oleh setiap anak-anak. Sejak kecil biasanya cita-cita yang dimiliki sangat beragam dan mungkin cenderung berubah-ubah. Berikut tips memotivasi anak mengejar cita-citanya.

Meskipun kadang kala anak-anak belum memahami esensi dari cita-cita, orangtua dapat mengajarkan pentingnya mengejar hal tersebut untuk masa depan yang lebih baik. Orangtua dapat membantu meningkatkan keinginan anak dalam mengejar cita-citanya dengan beberapa tips memotivasi anak yang berikut ini.

  1. Dengarkan apa yang anak inginkan

Selain sebagai orangtua, tentunya kamu juga memiliki peran penting untuk bersikap layaknya sahabat terbaik bagi anak. Dengan cara demikian, kamu dapat mendengarkan segala keinginan anak.

Melalui keinginan yang anak idamkan, orangtua dapat membantu mengarahkannya dengan baik. Dengan demikian, mereka jadi memiliki kesempatan untuk dapat mengejar impiannya sebaik mungkin.

  1. Membantu anak memfokuskan potensinya

Setiap anak biasanya cenderung memiliki potensi yang berbeda-beda. Kadang kala potensi tersebut bahkan sudah dapat terlihat sejak anak kecil sehingga orangtua dapat melihatnya dengan cermat.

Dengan memahami apa potensi anak, nantinya orangtua dapat membantu memfokuskan potensi tersebut. Cara tersebut akan membantu anak dalam memperoleh cita-citanya kelak.

  1. Mengajarkan ketekunan pada anak

CIta-cita dan impian dari anak-anak juga harus diseimbangkan dengan prosesnya. Kadang kala anak belum mampu memahami proses tersebut sehingga bisa saja cenderung mudah menyerah saat menemui hambatan.

Itulah yang kemudian membuat orangtua perlu mengajarkan ketekunan pada anak. Melalui cara yang tepat, anak dapat memahami pentingnya proses dan dapat menghargai proses tersebut.

  1. Meminta anak untuk menentukan tujuan dari cita-citanya

Anak-anak biasanya memiliki cita-cita yang ingin dicapai, namun sedikit yang memahami apa tujuan dari memiliki cita-cita tersebut. Kebanyakan hanya menjawabnya tanpa pertimbangan sebab anak-anak memang belum terlalu memahami hal tersebut.

Tidak heran bila kemudian orangtua harus dapat meminta dan membimbing anaknya untuk memahami tujuan dari cita-cita. Tak hanya sebatas untuk memperoleh materi semata, namun juga agar kelak dapat berguna bagi banyak orang.

  1. Meningkatkan kepercayaan dirinya

Tidak semua anak dianugerahi kepercayaan diri yang tinggi. Sebagian lainnya bahkan mengalami kesulitan untuk dapat percaya pada kemampuan dirinya sendiri.

Tentu saja orangtua memiliki peran besar dalam menentukan kepercayaan diri anak. Temukan cara yang terbaik agar anak kelak dapat tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri.

Dengan menanamkan cara-cara terbaik dalam mendidik anak, kelak anak dapat mencapai cita-citanya dengan sebaik mungkin. Ketahui potensinya, ya! (*)

Editor: Redaksi Akurasi.id

Sumber: Idntimes.com

 

 

 

Tips Membangunkan Anak di Pagi Hari dengan Mengurangi Drama

Tips Membangunkan Anak di Pagi Hari dengan Mengurangi Drama

Akurasi.id – Memiliki anak kecil memang menjadi tantangan tersendiri bagi kebanyakan orangtua, khususnya pada saat pagi hari. Kerepotan yang sering muncul terkadang menjadi penyebab dari riuhnya aktivitas pagi hari. Berikut tips membangunkan anak di pagi hari.

Anak-anak seringkali merasa sulit untuk dibangunkan tidur, apalagi jika sudah menunda dalam bersiap-siap ke sekolah. Tentunya hal ini menjadi suatu tantangan tersendiri yang tak mudah untuk dilalui. Untuk mempersiapkan anak agar tak malas bangun di pagi hari, beberapa tips membangunkan anak berikut ini bisa dicoba oleh banyak orangtua.

  1. Selalu membuat aturan jam tidur bagi keluarga

Para orangtua memiliki peran yang tegas untuk menentukan aturan di rumah. Tentu saja hal ini juga termasuk dengan aturan jam tidur bagi keluarga.

Semua anggota keluarga, khususnya anak-anak, wajib menaati peraturan mengenai jam tidur. Jika tidak diberlakukan aturan yang demikian, anak akan sulit untuk tidur dengan teratur sehingga mudah bangun kesiangan.

  1. Untuk anak yang rutin menggunakan gadget, aktifkan screen time

Anak-anak zaman sekarang kadang kala sulit lepas dari penggunaan gadget di setiap harinya. Tentu saja orangtua juga harus mewaspadai kebiasaan semacam ini dengan cara yang tepat.

Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan mengaktifkan mode screen time pada ponsel miliki anak. Cara ini akan membantu anak dalam mengurangi intensitas penggunaan ponsel menjelang tidur.

  1. Cukupkan tidur siang pada anak

Anak-anak biasanya memiliki waktu tersendiri untuk tidur siang setelah pulang sekolah. Waktu istirahat inilah yang juga harus dimaksimalkan secara penuh oleh anak.

Jangan sampai jam tidur siang anak berkurang karena terlalu lama bermain. Dengan waktu tidur siang yang cukup, anak pun nantinya tidak akan tidur terlalu larut dan juga dapat bangun lebih awal.

  1. Saling membagi waktu bersiap di pagi hari

Untuk kebiasaan lainnya yang sering menimbulkan keributan di rumah adalah pada saat bersiap-siap pergi ke sekolah. Biasanya para orangtua akan terlibat drama bila anak-anaknya enggan untuk segera bersiap-siap.

Para orangtua dapat menyiasatinya dengan saling membagi waktu bersiap secara bijak di pagi hari. Waktu ini dimaksudkan agar anak tidak saling berebut atau pun nantinya akan memahami jadwal-jadwalnya saat harus bersiap-siap.

  1. Berikan apresiasi terhadap anak

Meskipun kadang kala para orangtua dan anak-anak banyak terlibat dalam drama di pagi hari, ada pula saat semuanya berjalan dengan baik. Hal inilah yang kemudian harus digunakan orangtua dalam mengambil hati anak.

Jangan lupa untuk selalu memberikan apresiasi pada anak terhadap apa yang telah dilakukannya hari ini. Kelak anak akan paham bahwa rutinitas yang dilakukannya tepat sehingga harus menjadi kebiasaan setiap harinya.

Melalui cara-cara yang tepat, tentunya para orangtua jadi bisa meminimalkan kemungkinan anak untuk terlibat drama saat membangunkan tidur atau bersiap-siap sekolah. Mudah dipraktikkan, bukan? (*)

Editor: Redaksi Akurasi.id

Sumber: Idntimes.com

 

 

 

Tips Atasi Anak Sering Berteriak Kencang

Tips Atasi Anak Sering Berteriak Kencang

Akurasi.idAnak-anak memang selalu penuh dengan hal-hal yang tidak bisa ditebak. Tidak hanya berkaitan dengan cara berpikirnya, namun juga dengan perilaku yang dilakukannya sehari-hari. Salah satu kebiasaan yang mungkin umum dilakukan adalah anak sering berteriak kencang.

Alasannya bisa sebagai cara untuk menarik perhatian atau hanya sekadar iseng untuk bermain-main. Sebagai orangtua tentunya kamu harus dapat mengatasi kebiasaan anak sering berteriak kencang dengan beberapa cara yang berikut ini.

  1. Menanyakan alasannya pada anak

Anak-anak pasti memiliki alasan tersendiri mengapa mereka cenderung selalu berteriak. Biasanya mereka juga tidak akan memberikan jawaban yang jelas apabila ditanya.

Itu lah alasan mengapa orangtua harus dapat bertanya dengan jelas tanpa perlu memaksa anak. Biarkan anak menjawabnya tanpa perlu merasa khawatir dan ragu.

  1. Ajarkan anak untuk mengontrol emosinya

Ada anak-anak yang memiliki kebiasaan untuk berteriak sebab emosinya yang tidak terkontrol. Hal ini tentunya membuat banyak anak tidak dapat mengontrol emosi sehingga mudah berteriak kencang.

Orangtua memiliki peran penting untuk dapat membantu menenangkan anak sejenak. Pastikan anak merasa nyaman sehingga tidak perlu melampiaskan amarahnya dengan berteriak.

  1. Memberi tahu anak tentang etika berbicara di dalam atau luar rumah

Memaklumi tindakan anak yang gemar beteriak memang menjadi salah satu cara yang dapat dilakukan. Namun, kamu juga tidak bisa hanya membiarkannya saja.

Cara terbaik yang dapat dilakukan adalah dengan menasehati dan memberi tahu anak tentang etika. Etika ini berkaitan dengan cara berbicara di dalam dan di luar rumah.

  1. Jelaskan bahaya berteriak bagi anak

Biasanya anak-anak tidak pernah terlalu berpikir panjang tentang apa yang ia lakukan. Biasanya hal ini dilakukan atas keinginannya saja tanpa memikirkan akibatnya.

Para orangtua harus dapat menasehati anak tentang apa bahaya berteriak secara kencang. Dengan demikian, anak tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.

  1. Mengajak anak untuk mengalihkan fokusnya

Tidak semua anak dapat langsung menuruti apa yang orangtuanya katakan. Ada pula anak yang terkesan lebih cuek atas nasihat yang diberikan orangtua.

Jika sudah demikian, orangtua harus dapat membantu anak mengalihkan fokusnya. Cara ini akan membuat anak jadi berhenti untuk berteriak kencang.

Semua cara di atas bisa kamu lakukan secara bertahap pada anak. Kebiasaan berteriak kencang tentunya tidak hanya akan mengganggu orang-orang di sekitar, namun juga akan membahayakan anak. Jangan sampai cuek dengan anak, ya! (*)

Editor: Redaksi Akurasi.id

Sumber: Idntimes.com

 

 

 

6 Kemungkinan Penyebab Speech Delay pada Anak

6 Kemungkinan Penyebab Speech Delay pada Anak

Akurasi.idSpeech delay adalah masalah perkembangan pada anak tidak lancar komunikasi (bicara dan bahasa) seperti teman seusianya. Kemampuan berbicara mendukung anak bersosialisasi dengan kawannya. Banyak penyebab speech delay yang terjadi pada anak.

Jika si kecil mengalami speech delay, mereka tidak bisa menyampaikan imajinasi dan isi pemikirannya. Berbahasa menjadi salah satu perkembangan yang harus dilalui setiap bertambahnya. Sebenarnya, apa penyebab speech delay pada anak? Yuk, simak informasi berikut.

  1. Genetik atau keturunan 

Dilansir dari jurnal Preschool tahun 2021, gejala anak speech delay antara lain pengucapan kata yang tidak jelas, sulit menjaga kontak mata saat bicara, bicara kaku dengan suara pelan, lebih sering berkomunikasi dengan gerakan, kosakata sedikit, dan kesulitan menyusun kata atau bercerita.

Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah faktor genetik. Faktor penyebab satu ini tidak bisa diubah. Keturunan dengan riwayat keterlambatan berbicara dapat menjadikan anak memiliki kondisi serupa.

  1. Gangguan biologis 

Penentuan penyebab keterlambatan berbicara perlu dilakukan oleh oleh dokter anak. Diagnosis ini biasanya dilakukan oleh dokter THT, psikolog, atau psikiater.

IDAI menyebutkan speech delay bisa terjadi karena gangguan pendengaran atau autisme. Bisa juga disebabkan masalah pada mulut yang mempengaruhi kemampuannya mengucapkan kata.

  1. Orangtua kurang ‘merangsang’ keterampilan berkomunikasi anak

Golden period adalah momen penting bagi orangtua untuk menjalankan fungsi mengasihi, mengasuh, dan mengasah anak. Anak cenderung belajar dari apa yang didengar, diucapkan, dan dilakukan orang lain.

Studi dalam jurnal Al-Shifa menyebutkan orangtua yang pasif berperan dalam terjadinya speech delay. Ini terjadi karena orangtua tidak meluangkan waktu untuk merangsang kemampuan bicara serta tidak memberi kesempatan berbicara.

  1. Keterikatan dengan orangtua kurang

Jalinan ikatan antara anak dan orangtua yang kuat dapat menciptakan interaksi baik di antara keduanya. Ini bisa membantu meningkatkan  keterampilan anak dalam berkomunikasi dengan kata-kata.

Orangtua bisa mempererat hubungan dengan anak sejak lahir dengan cara memperhatikan anak ketika berbicara, fokus ke buah hati ketika memberi ASI, dan mengoreksi kata yang diucapkan jika kurang tepat. Bukan hanya ibu, ayah juga bisa menjadi role model dalam belajar berbicara.

  1. Kurangnya informasi yang didapatkan orangtua

Ilmu parenting bisa diperoleh dari pendidikan formal, seminar parenting, YouTube, konsultasi dengan pakar, podcast, ataupun media cetak. Fasilitas ini dapat dimanfaatkan untuk memahami perkembangan anak.

Orangtua perlu memahami cara si kecil belajar mengenal kata. Pola stimulasi baik untuk mencegah speech delay anak.

  1. Keseringan bermain gadget dan menonton televisi

Kebanyakan orangtua memberikan gadget, mainan online, dan menonton televisi untuk mencegah anak rewel. Tapi, apakah screen time pada bayi memang diperlukan? Ternyata penggunaan screen time berlebihan dapat mengurangi eksplorasi anak. Waktu yang bisa digunakan untuk membacakan cerita, mengajarkan nama benda, ataupun berkomunikasi dengan si kecil dihapuskan oleh smartphone.

Berbicara harusnya dua arah, namun digantikan oleh gadget atau televisi hanya diterima satu arah oleh anak. Tidak ada feedback ataupun bonding yang terjalin, kita juga tidak dapat mengamati ekspresinya. Motivasi anak belajar berbicara menjadi berkurang. Mengatasi speech delay perlu dilakukan dengan pemeriksaan lanjut oleh dokter, sehingga dokter bisa memberikan terapi yang sesuai dengan penyebabnya. (*)

Editor: Redaksi Akurasi.id

Sumber: Idntimes.com

 

 

 

5 Cara Jitu Tingkatkan Konsentrasi Anak

5 Cara Jitu Tingkatkan Konsentrasi Anak

Akurasi.idFokus dan konsentrasi dalam mengerjakan sesuatu dapat membuat pekerjaan lebih cepat selesai. Sebagai orang dewasa, cukup mudah bagi kita untuk kembali fokus terhadap pekerjaan. Berbeda dengan orang dewasa, anak-anak sangat mudah terganggu konsentrasinya. karenanya perlu juga kita tingkatkan konsentrasi anak.

Hal ini jelas berbeda dengan anak-anak yang perhatiannya sangat mudah teralihkan dan bosan. Namun, jangan dulu khawatir karena ada beberapa cara jitu yang dapat membantu tingkatkan konsentrasi anak.

Apa saja, ya? Yuk, simak penjelasan lengkapnya di bawah ini!

  1. Ajak si kecil ikut berolahraga

Olahraga tak hanya menyehatkan bagi orang dewasa dan lansia. Faktanya, anak-anak juga memerlukan aktivitas ini untuk kesehatan fisik sekaligus mental mereka. Dilansir National Health Service, anak-anak membutuhkan olahraga selama 60 menit setiap harinya.

Durasi 60 menit ini dapat dibagi menjadi beberapa kegiatan olahraga seperti senam, bersepeda, jalan kaki dan berenang bersama. Berdasarkan keterangan dari Australian Goverment Departement of Health, manfaat olahraga bagi anak-anak, yaitu:

  • Melatih daya ingat dan konsentrasi
  • Mengurangi stres dan kecemasan
  • Mencegah obesitas pada anak
  • Memperkuat otot dan tulang
  • Meningkatkan rasa percaya diri
  1. Buat jadwal harian bersama

Anak-anak sebenarnya cenderung lebih fokus mengerjakan sesuatu bila tugasnya telah terjadwal. Untuk membuat jadwal harian, diskusikan dan bertanya pada anak tentang tugas sekolah yang paling dekat waktu pengumpulannya. Buatlah jadwal kegiatan ini menggunakan karton besar yang ditempel di dinding.

Setiap daftar juga harus berisi hari, tanggal, jam, dan kegiatan yang harus dikerjakan anak. Namun, ingatlah untuk tidak memberikan terlalu banyak tugas pada satu waktu. Hal ini hanya akan membuat anak sulit fokus dan merasa lelah. Selain itu, berilah jeda waktu sebelum anak melanjutkan ke tugas selanjutnya.

  1. Berikan permainan yang melatih konsentrasi

Melatih konsentrasi anak ternyata dapat dilatih dengan cara menyenangkan, lho. Contohnya dengan mengajaknya untuk bermain permainan yang melatih konsentrasi. Salah satu permainan yang paling terkenal membutuhkan fokus tingkat tinggi ialah menyusun puzzle.

Permainan ini akan melatih konsentrasi, ketelitian, daya ingat serta motorik halus anak. Selain puzzle, beberapa permainan seru lainnya yang dicoba di rumah seperti melipat kertas origami, teka-teki silang, dan catur. Tak hanya melatih konsentrasi, bermain bersama mereka juga dapat mempererat hubungan emosional antara orang tua dan anak.

  1. Ciptakan suasana belajar yang disukai anak

Sangat penting bagi para orang tua untuk memahami suasana belajar apa yang buah hatinya sukai. Pasalnya, tidak semua anak dapat fokus pada kondisi belajar yang tenang. Contohnya ada anak yang senang mengerjakan tugas sambil mendengarkan musik.

Di sisi lain, anak lainnya lebih menyukai belajar dengan suasana tenang. Selagi si kecil sedang mengerjakan tugasnya, sebaiknya tetaplah menemani mereka. Ini akan mempermudahnya untuk bertanya jika ada hal yang kurang dimengerti.

  1. Berikan penghargaan kepada anak

Semua orang tentu ingin setiap usahanya dihargai. Sama halnya dengan anak yang berharap usahanya mendapatkan apresiasi. Tak perlu memberikan hadiah, cukup berikan penghargaan berupa sebuah pujian kecil untuknya.

Usahakan melakukan kontak mata dan memberikan sentuhan lembut saat memuji si kecil. Meski terlihat sepele, cara ini dapat membuat anak lebih percaya diri serta membangun motivasi belajar.

Melatih konsentrasi anak memang membutuhkan kesabaran. Mengingat anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan mudah bosan. Oleh sebab itu, coba terapkan kelima cara di atas, ya! Semoga bermanfaat! (*)

Editor: Redaksi Akurasi.id

Sumber: IDNTimes.com

 

 

 

5 Tips Mengasah Jiwa Wirausaha Anak sejak Kecil

5 Tips Mengasah Jiwa Wirausaha Anak sejak Kecil

Akurasi.idWirausaha merupakan salah satu kemampuan diri yang berkaitan dengan cara berdagang, bekerja keras, dan mengatur keuangan. Semua kemampuan tersebut tentunya menjadi modal utama untuk dapat memperoleh tujuan sebagai orang yang sukses. Anak-anak pun perlu diasah jiwa wirausahanya. Mau tahu tips mengasah jiwa wirausaha anak?

Mempelajari mengenai wirausaha tidak hanya diperlukan untuk orang dewasa saja, tetapi juga anak-anak. Orangtua bahkan dapat mendidik anaknya mengenai cara berwirusaha melalui beberapa tips penting yang berikut ini. Berikut tips mengasah jiwa wirausaha anak sejak dini.

  1. Mengajarkan anak konsep uang

Kamu harus memahami terlebih dahulu mengenai apa itu konsep uang kepada anak. Hal ini juga akan membuat anak semakin mengenal dengan uang dengan cara yang baik.

Para orangtua dapat mengajarkan anak mengenai pecahan uang, pentingnya uang, dan cara mengelola uang. Pastikan hal ini disampaikan lewat cara yang mudah untuk dipahami anak-anak.

  1. Banyak mengobrol dengan anak mengenai hal-hal wirausaha

Kata siapa anak-anak hanya dapat mengobrol topik-topik ringan? Faktanya tidak demikian sebab kamu juga dapat mengajak anak mengobrol mengenai hal-hal wirausaha.

Jangan ajukan obrolan dengan topik yang berat pada anak. Ajaklah anak untuk mengobrol secara santai dan dengan tidak terlalu memaksanya.

  1. Mengajak anak ikut serta dalam acara wirausaha

Kadangkala kamu perlu mengajarkan anak dengan melakukan praktik secara langsung. Hal ini mungkin karena teori semata tidak akan cukup untuk diberikan pada anak.

Untuk memberikan banyak pengalaman pada anak, ajaklah ia untuk berkontribusi dalam setiap acara kewirausahaan. Cara ini akan membantu anak dalam semakin mengenal dunia wirausaha dengan baik.

  1. Menawarkan anak berwirausaha dari hal-hal kecil

Anak-anak kadang kala berada pada usia yang selalu penasaran dengan banyak hal. Hal ini membuat mereka juga senang bila diberikan tantangan yang tak biasa.

Kamu dapat mengajak anak untuk berwirausaha melalui hal-hal yang kecil. Contohnya anak bisa menjual mainan-mainan kecil atau alat tulis dengan target pasar yang merupakan teman-teman atau keluarganya sendiri.

  1. Mengajarkan esensi kerja keras dalam berwirausaha

Ada banyak pesan moral yang dapat diambil dari mengajarkan kewirausahaan pada anak. Salah satunya mengenai kerja keras.

Kamu tidak hanya cukup untuk mengajak anak saja, namun juga perlu memberikan arahan dan nasihat pada anak mengenai esensi kerja keras. Hal ini terjadi karena kerja keras sangat diperlukan dalam urusan wirausaha. Dengan demikian, anak juga sudah dibekali kemampuan untuk bekerja keras sejak kecil.

Ada banyak tips penting yang dapat diambil dalam mengajarkan anak berwirausaha. Semoga hal tersebut menjadi sinyal positif bagi perkembangan anak, ya! (*)

Editor: Redaksi Akurasi.id

Sumber: Idntimes.com

 

 

 

Tips Mengajarkan Anak Salat Lima Waktu dengan Teratur

Tips Mengajarkan Anak Salat Lima Waktu dengan Teratur

Akurasi.id – Memiliki anak yang baik dan rajin beribadah tentunya menjadi impian bagi hampir semua orangtua. Hal ini tidak hanya menjadi kebanggaan, namun juga menjadi sesuatu yang disyukuri oleh para orangtua. Karenanya orangtua perlu tahu tips mengajarkan anak salat lima waktu secara teratur.

Untuk dapat memiliki anak yang rajin beribadah, salah satunya para orangtua harus mendidik mereka untuk menunaikan salat dengan tepat waktu. Orangtua dapat mulai dari tips mengajarkan anak salat tepat waktu berikut ini.

  1. Perkenalkan segala hal tentang ibadah, khususnya salat pada anak

Anak-anak harus diperkenalkan sejak awal mengenai banyak hal. Tentunya ini juga termasuk dengan jenis ibadah, khususnya salat.

Perkenalkan anak dengan salat sedini mungkin untuk membuatnya semakin mengenal dan memahami bagaimana salat dapat dilakukan. Dengan demikian, maka salat tidak lagi menjadi sesuatu yang asing untuknya.

  1. Ajak anak untuk salat bersama orangtua

Orangtua tidak cukup hanya memperkenalkan saja dengan anak, tapi juga harus turut mengajak anak dalam melakukannya. Menurut artikel yang dilansir Proverbs 31 Mentor, mengajak anak untuk turut melakukan salat bersama orangtua bisa membantu.

Nantinya anak akan merasa bahwa salat merupakan suatu kewajiban yang dapat dilakukan bersama keluarga. Hal ini akan membuat mereka nyaman dalam melaksanakan salat.

  1. Selalu berikan contoh pada anak

Anak merupakan peniru terbaik dan orangtua merupakan sosok yang selalu ditiru oleh anak. Tak heran bila orangtua wajib memberikan contoh yang baik pada anak.

Dilansir Learn Religious, jika ingin membuat anak rajin melaksanakan ibadah salat secara tepat waktu, maka berikan contoh tersebut pada anak. Kelak anak akan mencontoh apa yang orangtuanya lakukan dan menjadikan salat sebagai kewajibannya sehari-hari.

  1. Menanamkan pentingnya melakukan ibadah salat

Orangtua tak cukup dengan meminta anak melakukan salat secara praktik saja. Namun, orangtua juga wajib menjelaskan alasan mengapa setiap orang harus melaksanakan salat.

Nantinya orangtua dapat menjelaskan hal tersebut dengan kalimat yang mudah dipahami oleh anak. Dengan memahami tujuannya dengan baik, maka anak bisa melaksanakan salat dengan pemahaman yang lebih matang.

  1. Berikan pujian jika anak melakukannya dengan baik

Anak-anak tentunya tak boleh luput dari bentuk apresiasi sebagai salah satu cara dalam upaya mendukungnya dan menghargai usahanya. Sebagai orangtua, tentunya kamu dapat memberikan pujian kepadanya sebab ia telah melakukannya dengan baik.

Orangtua tidak boleh lelah dalam mengajak, menasihati, dan mengapresiasi anak. Melalui  cara yang demikian, biasanya anak akan merasa bahwa ia dihargai dan salat sudah menjadi kewajibannya sehari-hari.

Semua bentuk usaha di atas tentunya harus konsisten dilakukan oleh orangtua sebaik mungkin. Hal ini untuk membuat anak jadi terbiasa dalam melaksanakan kewajibannya untuk salat lima waktu dengan tepat. Berikan contoh yang baik, ya! (*)

Editor: Redaksi Akurasi.id

Sumber: Idntimes.com

 

 

 

Ini Alasan Pentingnya Tertawa Bersama Anak

Ini Alasan Pentingnya Tertawa Bersama Anak

Akurasi.id Anak adalah anugerah terindah yang harus kita jaga, rawat, dan didik dengan benar. Perlunya ia untuk selalu bahagia supaya dapat membantu masa perkembangannya lebih baik.  Tertawa bersama anak bukan suatu hal yang sulit, tapi ada banyak alasan pentingnya hal tersebut dilakukan. Penasaran apa saja alasan tersebut? Yuk, kita simak penjelasan berikut ini! Dilansir dari idntimes.com, Kamis (14/10/2021).

  1. Menghilangkan stres dan menciptakan semangat untuk ibu

Ada banyak sekali manfaat dari tertawa. Salah satunya bisa menghilangkan stres. Hal ini menjadi salah satu alasan pentingnya kita tertawa bersama anak, yaitu untuk menghilangkan stres dan menciptakan semangat untuk ibu.

Tidak bisa dipungkiri, jika menjadi seorang ibu bukan pekerjaan yang mudah. Terkadang stres itu muncul karena berbagai hal, dan tertawa bersama anak punya manfaat besar untuknya.

  1. Menciptakan memori indah untuk anak

Walau tampak sederhana, kebiasaan tertawa bersama anak punya manfaat luar biasa yang salah satunya bisa menciptakan memori indah pada anak. Anak akan mengingat selalu kebahagiaan di waktu kecil mereka dengan kebiasaan sederhana tersebut.

Ketika ada memori indah yang bisa terus dikenang oleh anak, ia mudah sekali untuk selalu sayang kepada orang tua mereka. Benar-benar luar biasa sekali bukan?.

  1. Meningkatkan kesehatan tubuh anak dan ibu

Sudah banyak yang tahu jika tertawa dapat meningkatkan kesehatan kita. Hal ini juga berguna sekali untuk kesehatan tubuh anak dan ibu ketika kita membiasakan diri untuk tertawa bersama anak.

Dari mulai bercanda atau bahkan keceriaan berdua sambil mengerjakan pekerjaan rumah secara bersama. Banyak manfaat yang bisa di ambil. Makanya jangan ragu untuk membiasakan hal tersebut.

  1. Membantu meningkatkan kecerdasan emosi pada anak

Seperti dilansir Biznews, humor terkait dengan kecerdasan emosional yang tinggi. Hal ini sedikit banyak menjelaskan jika tertawa bisa saja meningkatkan kecerdasan emosional kita.

Pentingnya bagi anak akan hal tersebut, jadi tidak ada salahnya kita membiasakan diri barang sejenak untuk bercanda dan tertawa bersama anak. Hal kecil ini sangat bermanfaat untuk anak kita.

  1. Membangun pikiran positif pada ibu

Selain pada anak, untuk ibu juga ada manfaat luar biasa dengan tertawa bersama anak. Hal ini menjadi alasan akan pentingnya membiasakan hal tersebut. Walau terlihat sepele, agaknya jika kita menyadari pentingnya manfaat dari tertawa akan lebih baik.

Adalah bisa membangun pikiran positif pada ibu menjadi salah satu manfaat tersebut. Pikiran positif yang terus ada akan mempengaruhi ibu dalam pola asuhnya. Ia mungkin bisa saja jarang pandai mengendalikan emosinya setiap saat.

  1. Menciptakan pola asuh yang lebih baik tanpa emosi

Benar saja manfaat dengan tertawa bisa melatih kita untuk tidak terlalu emosional. Ketika hal ini terus berlanjut, bisa saja mempengaruhi pola asuh kita yang jauh lebih baik.

Tanpa banyak menggunakan emosi, anak akan selalu merasa nyaman dekat dengan orang tua. Hal ini sangat baik sekali untuk pertumbuhan mereka di masa depannya.

Kebersamaan dengan anak adalah waktu yang berharga, terlebih lagi ketika adanya kebahagiaan dengan canda dan tawa. Manfaatkan waktu sebaik mungkin untuk sesekali tertawa bersama anak, yuk, Moms!. (*)

Editor: Redaksi Akurasi.id

 

 

 

5 Kekeliruan Orangtua saat Perkenalkan Uang ke Anak

5 Kekeliruan Orangtua saat Perkenalkan Uang ke Anak

Akurasi.idUang tentunya dikenal sebagai alat transaksi yang sah untuk digunakan oleh semua orang. Keberadaan uang sangat penting untuk memudahkan segala aktivitas yang ada, termasuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dengan segala hal penting yang ada pada uang. Tak heran jika orangtua sudah perkenalkan uang ke anak sejak kecil.

Sayangnya, banyak orangtua yang justru keliru dalam perkenalkan uang ke anak, sehingga memberikan efek yang tidak baik. Beberapa kesalahan umum berikut ini banyak terjadi pada orangtua yang memperkenalkan uang untuk pertama kali pada anak-anaknya. Dilansir dari idntimes.com, Selasa (12/10/2021).

  1. Terlambat memperkenalkan uang pada anak

Banyak orangtua yang memiliki kekhawatiran berlebih soal uang. Mereka justru akan cenderung menunda memperkenalkan uang pada anak.

Justru saat anak terlambat belajar soal uang, maka mereka akan bingung dalam bertransaksi. Mereka juga jadi tak bisa membedakan mana yang mahal dan murah sehingga tidak memiliki pertimbangan.

  1. Memudahkan anak memperoleh apa yang ia inginkan

Tak hanya orang dewasa saja yang selalu ingin membeli sesuatu untuk memenuhi kebutuhannya. Anak-anak pun jelas demikian dengan segala keinginannya. Namun, caranya tidak dengan selalu memberikan apa yang diinginkannya.

Dilansir The Huffington Post, pengenalan terhadap uang nantinya akan membuat anak dapat memahami seberapa berharganya barang yang mereka inginkan. Nantinya mereka dapat belajar menabung dari pengetahuan yang diperolehnya soal uang.

  1. Tidak memberi paham mengenai esensi uang pada anak

Anak-anak sejatinya memiliki pikiran yang masih polos. Mereka cenderung belum memahami dengan jelas tentang apa itu uang dan seberapa berharganya uang.

Di situlah pentingnya peran orangtua bermain untuk memastikan anak-anak memahani apa esensi uang. Dengan memperkenalkannya terlebih dahulu, maka mereka akan bisa menghargai uang dengan semestinya.

  1. Tidak melibatkan anak saat berbelanja

Berbelanja bulanan tentunya menjadi aktivitas yang rutin dilakukan setiap orang. Kamu boleh sama melakukan hal ini, namun dengan melibatkan anak di dalamnya.

Dilansir First Horizon, melibatkan anak selama proses belanja, nantinya anak akan memahami harga-harga yang ada pada setiap barang. Anak-anak pun jadi bisa menyeleksi mana barang-barang yang memang mahal atau terjangkau dari segi harga. Cara ini bisa melatih anak dalam mempertimbangkan sesuatu sebelum membelinya.

  1. Tidak memperkenalkan transaksi pembayaran nontunai

Di zaman modern kini memang transaksi pembayaran berbasis tunai sekarang sudah mulai digeser. Banyak orang yang kini beralih pada pembayaran nontunai yang jauh lebih hemat.

Tak ada salahnya dalam memperkenalkan anak mengenai hal ini. Kelak anak jadi lebih berhati-hati dalam menggunakan pembayaran nontunai dan dapat memahami secara praktis mengenai penggunaannya.

Pentingnya memperkenalkan soal uang sejak kecil pada anak tentunya dapat dicoba. Meski demikian, tetap berikan nasihat terhadap anak tetap bagaimana sebaiknya ia dapat bersikap dalam menggunakan uang secara bijak. Anak jadi bisa memahami penggunaan uang, deh! (*)

Editor: Redaksi Akurasi.id

 

 

 

Ragam Kekerasan Emosional Orangtua ke Anak Penyebab Trauma

Ragam Kekerasan Emosional Orangtua ke Anak Penyebab Trauma

Akurasi.id – Segala bentuk kekerasan pada anak tidaklah benar, termasuk kekerasan emosional. Anak yang mengalami kekerasan emosional tidak dapat di deteksi secara jelas karena tidak menimbulkan luka fisik melainkan luka batin. Begini jenis-jenis kekerasan emosional orangtua ke anak.

Kekerasan emosional adalah jenis kekerasan secara verbal yang ditampakkan secara langsung maupun tidak langsung. Tidak jarang yang menjadi pelaku kekerasan ini adalah orangtua sendiri.

Anggapan orangtua selalu benar menjadi salah satu alasan anak tidak berani berontak. Padahal kekerasan emosional akan membekas di hati anak dan menjadi trauma.

Dilansir dari idntimes.com, Senin (11/10/2021), berikut 7 kekerasan emosional orangtua pada anak. Apakah kamu juga pernah merasakannya?

  1. Selalu mengungkit kesalahan dan biaya hidup

Setiap orangtua pasti menginginkan anaknya berhasil dalam tiap fase kehidupan. Namun, anak hanyalah manusia biasa yang bisa melakukan kesalahan.

Sudah seharusnya orangtua tetap mendukung anak di setiap keadaan susah maupun senang. Namun, beberapa orangtua tidak dapat menerima kegagalan anak.

Misalnya, ketika anak mendapatkan nilai jelek, orangtua mulai mengungkit kesalahanmu karena tidak pernah belajar, malas, bahkan membandingkan kamu dengan anak tetangga.

Lebih buruk lagik, jika orangtua mengungkit biaya yang sudah dikeluarkan untuk les, sekolah, dan menghidupi anak. Tidak enak didengar, bukan? Tanpa disadari, hal inilah yang membuat anak menjaga jarak dan lebih tertutup kepada orangtuanya.

  1. Bersikap manipulatif 

Sifat manipulatif adalah bentuk kekerasan emosional secara tidak langsung. Bahkan, beberapa orang tidak sadar jika mereka bersifat manipulatif. Tidak hanya dalam hubungan asmara, manipulasi juga bisa dilakukan oleh orangtua.

Contohnya, anak mendapatkan pekerjaan di luar kota. Namun, orangtua tidak setuju dan berkata, bahwa lebih baik mereka dikirim ke panti jompo, jika sang anak meninggalkan mereka. Padahal solusinya masih bisa dicari tanpa harus mengorbankan keduanya.

Sifat manipulatif seperti itu akan membuat anak takut untuk mengambil keputusan dan mengabaikan perasaannya sendiri.

  1. Usaha dan prestasi anak dipandang sebelah mata

Mungkin ada orang yang menganggap jika terlalu banyak mendapat pujian akan membuat anak jadi besar kepala dan cepat merasa puas. Padahal, tidak perlu membelikan hadiah atau reward, anak akan merasa dihargai jika usahanya diapresiasi.

Hal tersebut juga dapat menumbuhkan rasa optimis untuk menjadi lebih baik lagi. Jika pencapaian anak selalu dipandang sebelah mata oleh orangtua, nantinya akan membuat si anak merasa tidak percaya diri.

  1. Meremehkan perasaan anak

Semua perasaan yang dirasakan manusia itu valid tak peduli berapapun usia mereka. Terkadang, orangtua tidak menyukai jika anak menunjukan emosi negatif seperti perasaan sedih, kesal atau marah.

Mungkin tujuannya supaya anak selalu besyukur dan merasa bahagia dalam kehidupannya, tetapi perasaan negatif itu tidak seharusnya dianggap remeh dan diabaikan.

Hal tersebut dapat menyebabkan anak membatasi emosinya dan terlalu keras pada dirinya sendiri. Itulah alasan mengapa kebanyakan anak lebih suka bercerita pada sahabat daripada orangtua mereka.

  1. Tidak meminta maaf saat melakuakan kesalahan

Anggapan orangtua selalu benar memang tidak bisa dihilangkan dari mindset kebanyakan orang. Hal ini yang menyebabkan orangtua sulit mengucap maaf ketika melakukan kesalahan.

Padahal, meminta maaf tidak akan mengurangi rasa hormat anak pada orangtua. Justru tindakan tersebut sangat bijak dan akan menjadi contoh yang baik untuk anak.

  1. Anak dicap durhaka ketika memberikan opini

Merupakan hal yang wajar jika anak punya pemikiran yang berbeda dengan orangtua, karena beda generasi biasanya mempunyai pola pikir yang berbeda pula.

Dalam parenting yang toxic, anak akan dianggap membangkang jika memiliki perbedaan pendapat dan tidak boleh berkata “tidak” pada orangtua. Hal ini tentu akan berpengaruh pada kehidupan sosial si anak. Mereka akan menjadi pendiam dan tidak berani menyampaikan pendapat.

Oleh sebab itu, jika kamu memiliki perbedaan pendapat dengan orangtua, sebaiknya lebih selektif dalam cara menyampaikan pendapat tersebut.

  1. Memaksa anak untuk mengikuti kemauan orangtua

Setiap orangtua tentunya memiliki ekspektasi terhadap masa depan anak. Dalam parenting yang toxic, biasanya anak diarahkan untuk melanjutkan cita-cita orangtuanya yang gagal.

Misalnya, dulu orangtuamu ingin dirinya menjadi dokter, tapi tidak berhasil. Akhirnya kamu yang dituntut untuk melanjutkan cita-cita tersebut. Padahal kamu lebih berbakat dalam bidang seni.

Ketahuilah bahwa setiap anak punya kehidupan dan impian sendiri. Jika dipaksa mengikuti cita cita orang lain, kehidupannya tidak akan bahagia. Hal ini akan menyebabkan rasa marah dan kecewa terhadap orangtua.

Setiap orangtua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya walaupun terkadang caranya salah. Perlu diketahui bahwa beberapa orangtua tidak menyadari jika mereka telah melakukan kekerasan emosional. Hal terbaik yang dapat dilakukan adalah memaafkan dan menjadikan ini sebagai pelajaran untuk masa depan. (*)

Editor: Redaksi Akurasi.id