Review Film Harry Potter 20th Anniversary Return to Hogwarts

Review Film Harry Potter 20th Anniversary Return to Hogwarts

Akurasi.id, Jakarta –  Warner Bros. tampak sudah memiliki resep menghidupkan kembali tayangan legendaris, dan lebih berpeluang untuk diterima publik dibanding membuat versi reboot: sesi reuni.
Hal itu terlihat dari sesi reuni terbaru yang ditayangkan oleh Warner Bros. melalui HBO Max, Harry Potter 20th Anniversary Return to Hogwarts. Sebelum Return to Hogwarts, HBO Max merilis The Fresh Prince of Bel-Air Reunion pada 2020 dan Friends: The Reunion pada 2021.

Untuk Return to Hogwarts, acara reuni untuk penggemar Harry Potter ini tayang kurang dari setahun setelah Friends The Reunion yang rilis pada Mei 2021. Selang waktu yang mirip juga terjadi antara Friends The Reunion dengan The Fresh Prince of Bel-Air Reunion yang rilis pada November 2020.

Selayaknya dua sesi reuni tersebut, Return to Hogwarts adalah momentum penggemar Harry Potter yang mungkin kini sudah berkepala tiga dan memiliki anak, untuk kembali mengenang tayangan favorit mereka semasa anak-anak dan remaja dulu.

Suasana nostalgia jelas terasa dari film ini. Formulanya pun sama dengan Friends The Reunion dan The Fresh Prince of Bel-Air Reunion: mengundang pemain asli untuk datang ke lokasi syuting yang sama atau minimal diatur mirip dengan set aslinya.

Ditambah dengan obrolan antar pemain mengenang masa lalu dan dampak tayangan itu pada mereka, jelas akan memberikan sesi nostalgia tersendiri bukan hanya kepada para pemain melainkan juga penggemar.

READ  Beerikut Review Film: Ali & Ratu Ratu Queens

Dampak yang sama juga masih terasa. Beberapa informasi memang sudah akrab bagi penggemar. Namun ada juga sejumlah informasi yang sebelumnya tak pernah dibayangkan oleh Potterhead, setidaknya oleh saya yang terbilang dulu pernah ‘halu’ menjadi bagian dari sekolah sihir itu.

Namun dibanding Friends The Reunion, film ini memiliki eksekusi yang lebih baik. Setidaknya, tidak ada tiba-tiba sesi runway kostum macam Halloween dari artis-artis yang sebenarnya tidak ada sangkut pautnya dengan cerita tayangan itu.

film ini juga lebih fokus pada para pemain dan kru, dan dibuat seolah obrolan kawan lama serta pengakuan ala-ala reality show. Dengan sebagian besar obrolan dipandu oleh Daniel Radcliffe, obrolan para pemain dan kru jelas terasa lebih santai dan intim.

Alur nostalgia itu pun dibuat lebih rapi dengan pembagian babak-babak yang menggambarkan sejumlah momen penting dari dunia Harry Potter. Momen-momen emosional juga jelas terlihat disiapkan dan diatur sebaik mungkin.

Film satu jam 38 menit ini juga lebih fokus pada produksi film serial Harry Potter, alih-alih cerita serta gagasan si Anak yang Bertahan Hidup yang sebenarnya buah pemikiran JK Rowling. Sehingga, peran Rowling begitu terasa dikesampingkan dalam film ini.

Hal tersebut terlihat dari film ini yang sama sekali tidak mengundang Rowling. Wawancara Rowling yang muncul pun hanya berupa arsip dari 2019, era sebelum kontroversi pandangannya terhadap kelompok transgender menimbulkan protes dan pertentangan dari para pemain Harry Potter.

READ  Daftar Game Nintendo Switch Terbaik Dimainkan di 2021

Saya sebagai salah satu dari penggemar sebenarnya cukup kecewa ketika JK Rowling tidak terlibat secara langsung dalam sesi reuni. Bagaimana pun juga, Rowling adalah awal mula dari dunia sihir Harry Potter yang mampu menjadi penyemangat jutaan Potterhead di dunia.

Meski begitu, keputusan sutradara Casey Patterson dan para produser untuk tidak menyertakan Rowling menimbang kontroversi yang pernah terjadi juga bisa dimaklumi. Jelas Warner Bros. tak ingin menimbulkan sesuatu yang bisa menjadi kontroversi dari kelompok yang sakit hati oleh Rowling.

Selain ketiadaan Rowling yang membuat sesi reuni ini menjadi terasa tak terlalu spesial, sejumlah pemain yang memerankan sosok ikonis pun tidak tampak.

Misalnya Michael Gambon yang berperan sebagai Albus Dumbledore dari film ketiga hingga kedelapan, Imelda Staunton sebagai Dolores Umbridge, Julie Walters sebagai Molly Weasley, atau Maggie Smith yang menjadi Professor McGonagall.

Padahal karakter-karakter tersebut punya peran dan kesan yang signifikan dalam kisah Harry Potter. Para penggemar pun pasti mengenali rupa wajah mereka, bahkan masih ingat adegan atau gaya-gaya ikonis karakter tersebut serta alasan mereka dicintai atau dibenci.

Namun seiring dengan film ini berjalan, Return to Hogwarts menampilkan betapa banyak aktor papan atas Inggris yang terlibat dan karakter yang muncul dalam dunia Harry Potter. Sehingga rasanya memang menjadi tantangan tersendiri dalam menentukan siapa yang mestinya ditampilkan dalam sesi reuni.

Meski begitu, mengingat film dokumenter ini ditayangkan di layanan streaming, semestinya durasi bukan menjadi sebuah hambatan. Apalagi film ini sudah pasti hanya dinantikan oleh penggemar Harry Potter yang akan dipastikan rela menyediakan waktu untuk kembali bernostalgia dengan dunia magis Harry Potter.

READ  Rekomendasi Keyboard Gaming Murah dan Berkualitas 2021

Terlepas dari itu semua, Return to Hogwarts masih patut menjadi rekomendasi tayangan untuk pencinta Harry Potter. Setidaknya, film dokumenter ini seperti penutup yang manis dari saga Harry Potter yang terakhir kali tayang pada 2011.

Bahkan lebih dari itu, dokumenter ini juga mengingatkan bahwa cerita dan delapan film Harry Potter bukan hanya sekadar film serta kisah fantasi, melainkan sebuah bab tersendiri dalam sejarah perfilman dan buku anak-anak di dunia. (*)

Sumber: CNNIndonesia.com

Editor: Redaksi Akurasi.id

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.